Tulisan ini bukan catatan tentang keberhasilan. Saya menuliskannya sebagai ruang untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan bertanya kepada diri sendiri, "apa yang sudah berubah dalam diri saya setelah satu tahun berpindah wadah?"
Sebab perjalanan hidup kadang terlalu cepat untuk kita sadari. Kita sibuk menjalani hari, menyelesaikan pekerjaan, menghadapi persoalan, mengejar target, lalu tiba-tiba waktu sudah membawa kita begitu jauh dari titik tempat kita memulai. Karena itu, tulisan ini saya jadikan semacam penanda waktu. Bukan untuk mengatakan bahwa semuanya telah berhasil. Bukan pula untuk mengatakan bahwa saya sudah menjadi orang yang paling tahu. Justru sebaliknya, satu tahun ini membuat saya semakin sadar bahwa masih banyak yang belum saya pahami, masih banyak yang harus saya pelajari, dan masih banyak hal dalam diri saya yang perlu diperbaiki. Saya hanya ingin mencatat sebuah perjalanan. Tentang bagaimana rasanya meninggalkan sesuatu yang sudah lama saya kenal, memasuki dunia yang sama sekali berbeda, belajar menjadi orang baru, mengenal orang-orang baru, dan perlahan menemukan bahwa mungkin perpindahan itu bukanlah akhir dari sesuatu. Mungkin ia adalah awal dari cara baru untuk mengenal diri sendiri.
Setahun yang lalu, saya berpindah. Bukan sekadar berpindah ruangan, tetapi berpindah dunia kerja. Dari ruang Pengadaan Barang/Jasa yang selama bertahun-tahun saya kenal, saya kemudian ditempatkan di Bidang Sarana, Kawasan, dan Data Industri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku Utara. Saya masih ingat perasaan ketika pertama kali memasuki ruang kerja yang baru. Ada rasa penasaran, tetapi juga ada kekhawatiran.
"Apakah saya bisa memahami dunia industri?"
"Apakah saya bisa mengikuti regulasi dan substansinya?"
"Apakah saya bisa membangun tim?"
Dan, seperti yang sering terjadi dalam birokrasi, "apakah saya bisa bekerja tanpa terseret oleh berbagai prasangka, cerita, atau bahkan fitnah yang kadang datang tanpa pernah kita undang?".
Semua pertanyaan itu ada. Namun, di tengah ketidakpastian itu, saya teringat kembali pada pesan ayah saya "Emas itu tetap emas, di mana pun ia berada. Kotoran tetap kotoran, meskipun diletakkan di etalase yang mewah." Sebuah kalimat sederhana, tetapi semakin bertambah usia, semakin panjang pula tafsirnya. Dulu saya memahaminya sebagai pesan tentang integritas. Kini saya memahaminya lebih luas. Jabatan bisa berpindah. Ruang kerja bisa berubah. Lingkungan bisa berganti. Bahkan bidang yang selama bertahun-tahun kita kuasai bisa tiba-tiba bukan lagi menjadi tempat utama kita bekerja. Tetapi nilai diri tidak boleh ikut berpindah. Maka saya mencoba menerima perpindahan itu sebagai bagian dari perjalanan.
“Selamat Bergabung di Perindag”
Hari pertama, saya bertemu dengan Kepala Dinas yang saat itu menjabat. Kebetulan beliau adalah orang yang sudah lama saya kenal. Kalimat pertamanya sederhana. "Selamat bergabung di Perindag." Saya kemudian meminta arahan mengenai apa yang harus saya lakukan. Jawabannya cukup umum. Dan saya kira itu sesuatu yang wajar. Ketika seseorang masuk ke dunia baru, tidak mungkin seluruh pekerjaannya diberikan dalam bentuk petunjuk langkah demi langkah. Ada bagian yang memang harus dicari sendiri. Maka saya mulai membaca kembali tugas dan fungsi bidang berdasarkan regulasi yang berlaku. Saya mencoba memahami bahasa baru yang sebelumnya tidak terlalu akrab dengan keseharian saya.
Saya juga menemui pejabat yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang. Pertemuan itu berlangsung sederhana dan hangat. Bahkan ketika itu ruangan kerja saya belum memiliki AC. Kami berbicara cukup panjang mengenai pekerjaan, lingkungan kerja, dan berbagai hal yang perlu saya ketahui sebagai orang baru. Tidak ada Berita Acara Serah Terima Jabatan yang secara formal memindahkan seluruh pengetahuan dan konteks pekerjaan dari pejabat sebelumnya kepada saya. Tetapi percakapan hari itu justru menjadi bentuk serah terima yang lain yakni pengalaman. Dari pembicaraan tersebut, saya menemukan salah satu pekerjaan penting yang harus segera saya pahami, yaitu Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) yang telah dipersiapkan sejak beberapa tahun sebelumnya, tetapi hingga saat itu belum memiliki Peraturan Daerah. Saya kemudian berpikir sederhana, Baik. Kalau ini salah satu pekerjaan penting di bidang ini, saya harus mulai dari sini.
Winning Eleven
Setelah mulai memahami pekerjaan, saya mencoba mengenal sepuluh orang staf yang bekerja di bidang tersebut. Saya ingin tahu siapa mereka, bagaimana karakter mereka, apa yang mereka kerjakan, dan bagaimana kami bisa bekerja bersama. Dengan saya, jumlah kami menjadi sebelas. Saya kemudian menyebutnya "Winning Eleven". Tentu bukan karena kami sedang mengikuti pertandingan sepak bola. Hanya cara sederhana untuk mencairkan suasana. Saya memang tidak terlalu cocok dengan suasana kerja yang selalu kaku. Dalam situasi tertentu, saya lebih suka bercanda dan tertawa bersama staf. Dan ternyata, sepuluh orang itu juga kurang lebih memiliki karakter yang sama. Kami bisa serius ketika membahas pekerjaan, tetapi bisa tertawa ketika situasi memungkinkan.
Bagi saya, itu penting. Sebab bekerja dalam sebuah tim bukan hanya tentang pembagian tugas. Di dalamnya ada manusia dengan karakter, kebiasaan, pengalaman, kelebihan, kekurangan, dan cara berpikir yang berbeda. Saya tidak pernah melihat mereka semata-mata sebagai bawahan. Saya melihat mereka sebagai partner kerja. Tugas saya mungkin mengarahkan, tetapi saya juga harus belajar mengenali kekuatan masing-masing. Ada yang kuat dalam data. Ada yang teliti dalam administrasi. Ada yang cepat memahami persoalan teknis. Ada yang lebih banyak bekerja di balik layar. Dan ada pula yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi ketika diberikan pekerjaan, ternyata mampu menyelesaikannya.
Saya mulai menyadari bahwa seorang kepala bidang tidak harus menjadi orang yang paling tahu semuanya. Kadang tugasnya justru memastikan orang-orang dengan kemampuan yang berbeda dapat bergerak ke arah yang sama.
Ketika “Messi” Datang
Memasuki Januari 2026, terjadi pergantian Kepala Dinas. Kepala Dinas yang baru juga merupakan orang yang sudah lama saya kenal. Ada satu hal yang membuat kehadiran beliau di lingkungan kerja terasa semakin mudah untuk saya ceritakan, beliau adalah penggemar berat Argentina, terutama Lionel Messi. Maka, entah sejak kapan, dalam tulisan ini saya menyebut beliau sebagai “Messi”. Tentu saja ini hanya sebuah candaan kecil di antara kami. Dan kalau sudah bicara Messi, saya jadi teringat satu hal yang agak menggelitik. Messi dan Argentina pernah punya cerita pahit ketika berhadapan dengan Jerman di Piala Dunia. Jadi, kalau saja dalam imajinasi saya pertandingan Argentina melawan Jerman terjadi lagi dengan suasana dan hasil yang berbeda, mungkin saya sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi sang “Messi” di kantor.
Begitulah kadang humor bekerja di tengah birokrasi. Ia tidak menyelesaikan pekerjaan, tetapi setidaknya membuat pekerjaan terasa sedikit lebih manusiawi. Namun, di balik candaan itu, pergantian pimpinan kembali mengingatkan saya pada satu hal, yakni dalam birokrasi, perubahan adalah sesuatu yang biasa. Pimpinan bisa berganti. Jabatan bisa berpindah. Kebijakan bisa berubah. Yang kemudian menjadi penting adalah bagaimana sebuah tim tetap menjaga kesinambungan pekerjaan.
Dan bagi kami di bidang ini, pergantian pimpinan bukan alasan untuk berhenti. Pekerjaan yang sudah berjalan tetap harus dilanjutkan, yang belum selesai harus dituntaskan, dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki harus terus dibenahi. Karena pada akhirnya, organisasi tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang duduk di kursi pimpinan. Ia harus tetap berjalan karena ada orang-orang yang bersedia menjaga pekerjaan itu tetap hidup.
RPIP dan Sepuluh Orang yang Menjadi Bahan Bakar
Salah satu pekerjaan yang terus kami dorong adalah Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP). Perlahan, dokumen yang sebelumnya terasa begitu besar dan asing bagi saya mulai menjadi sesuatu yang semakin saya pahami. Bukan berarti saya tiba-tiba menjadi ahli industri. Sama sekali tidak. Saya hanya mulai memahami bahasa yang sebelumnya terasa asing. Tentang perencanaan industri. Tentang hilirisasi. Tentang kawasan industri. Tentang industri hijau. Tentang SIINAS. Tentang data industri. Dan berbagai persoalan lain yang sebelumnya tidak menjadi bagian utama dari keseharian saya. RPIP kemudian berkembang hingga memasuki tahap untuk dipersiapkan menjadi Ranperda pada tahun 2026. Apakah itu prestasi saya? Jelas bukan. Kalau harus menunjuk siapa yang paling berjasa, saya justru akan menunjuk sepuluh orang yang bekerja bersama saya. Merekalah bahan bakar sesungguhnya. Saya mungkin berada di depan sebagai kepala bidang, tetapi pekerjaan itu tidak akan bergerak tanpa mereka.
Dan saya tidak ingin menganggap apa yang kami lakukan sebagai koreksi terhadap masa lalu. Apa yang dikerjakan oleh tim sebelumnya bukan berarti buruk. Dalam organisasi, tidak semuanya harus dimulai dari nol hanya karena pimpinan berganti. Yang baik diteruskan. Yang masih perlu diperbaiki diperbaiki. Yang belum selesai dilanjutkan. Begitulah seharusnya sebuah organisasi bekerja.
Bekerja Ketika Anggaran Tidak Banyak Bicara
Tahun ini juga menjadi tahun ketika efisiensi anggaran menjadi bagian dari kenyataan. Ada saat-saat ketika kegiatan tidak memiliki anggaran sebagaimana yang kami harapkan. Tetapi pekerjaan tidak kemudian berhenti. Laptop tetap dibuka. Data tetap dikumpulkan. Dokumen RPIP tetap dikerjakan. Permintaan data industri dari berbagai pihak tetap kami respons. Apa yang tersedia kami gunakan. Bukan sesuatu yang heroik. Hanya pekerjaan yang memang harus dilakukan. Tetapi dari situ saya melihat sesuatu yang lebih penting. Ketika sumber daya terbatas, yang diuji bukan hanya anggaran. Yang diuji adalah cara sebuah tim bekerja. Apakah kami hanya bergerak ketika ada kegiatan? Ataukah kami tetap bisa bekerja ketika fasilitas dan anggaran terbatas? Saya belajar bahwa keterbatasan kadang justru memaksa kita menjadi lebih kreatif dan lebih terstruktur.
ASIK dan Upaya Kecil untuk Berubah
Tahun ini kami juga mendaftarkan sebuah inovasi melalui IGA Kemendagri. Namanya ASIK (Akselerasi Sarana Industri Kecil). Belum ada hasil penilaian yang perlu dibanggakan. Dan memang bukan itu poinnya. Bagi saya, mendaftarkan ASIK adalah sebuah tanda bahwa kami ingin mulai mengubah sesuatu. Tidak harus langsung besar. Tidak harus langsung sempurna. Yang penting ada kemauan untuk bergerak. Karena perubahan organisasi sering kali tidak dimulai dari program yang spektakuler. Kadang dimulai dari sekelompok orang yang duduk bersama, melihat persoalan, kemudian berkata "Kita coba lakukan sesuatu."
Keluar dari Zona Nyaman
Kalau saya melihat kembali satu tahun ini, mungkin perubahan terbesar bukanlah pada jabatan saya. Perubahan terbesar justru terjadi pada cara saya memandang zona nyaman. Sebelum berpindah, saya sempat takut. Takut tidak kompeten. Takut tidak mampu memahami bidang baru. Takut tidak mampu membangun tim. Takut menghadapi berbagai dinamika yang mungkin muncul. Tetapi ternyata ketakutan itu tidak selalu harus disingkirkan sebelum kita melangkah. Kadang kita cukup membawanya berjalan bersama kita. Sebab keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian mungkin hanya berarti tetap berjalan meskipun rasa takut itu ada.
Dan saya percaya, perpindahan ini bukan semata-mata tentang keinginan saya. Ada kehendak Allah SWT di dalam setiap perjalanan manusia. Maka salah satu bentuk rasa syukur saya adalah berusaha menjalankan amanah baru ini dengan sungguh-sungguh. Saya masih belajar. Masih banyak yang belum saya pahami. Tetapi setidaknya saya sudah berani keluar dari ruang yang selama ini saya kenal. Dan ternyata dunia di luar ruang itu tidak seburuk yang saya bayangkan. Bahkan, saya mulai menikmatinya.
Dari “Hadapilah Perlahan” sampai “Ampuni Aku”
Menariknya, di tengah masa-masa itu saya juga sempat menulis dua buah lagu. Judulnya cukup serius: “Hadapilah Perlahan” dan “Ampuni Aku”. Kalau bicara soal musik, saya tentu harus sedikit membanggakan diri. Kedua single tersebut meledak di pasaran. Sayangnya, ledakannya bukan seperti yang dibayangkan industri musik. Konon, sampai ada 100 orang yang luka-luka. Ya... begitulah nasib musisi yang terlalu percaya diri. Padahal kalau mau jujur, kedua lagu itu sebenarnya lahir bukan dari ambisi untuk menjadi penyanyi terkenal. Ia lahir dari sebuah masa ketika saya sedang banyak berbicara dengan diri sendiri.
Dalam “Hadapilah Perlahan”, saya menulis:
Mungkin saat itu saya sedang mencoba menenangkan diri sendiri. Bahwa tidak semua perubahan harus dilawan. Ada yang cukup diterima. Dijalani. Dipahami. Dan perlahan-lahan kita akan menemukan jalan.
Sementara dalam “Ampuni Aku”, nada yang saya bawa jauh lebih dalam. Ia seperti percakapan seorang manusia dengan Tuhannya:
Jika setahun lalu lagu itu lahir dari kegelisahan, hari ini saya mendengarnya dengan perasaan yang sedikit berbeda. Saya mulai memahami bahwa kehilangan kenyamanan tidak selalu berarti kehilangan arah. Kadang Allah SWT memang memindahkan kita dari satu tempat ke tempat lain agar kita belajar melihat diri sendiri dengan cara yang berbeda. Dan mungkin, tanpa saya sadari ketika menulisnya, kedua lagu itu sebenarnya sedang menjadi soundtrack dari sebuah perjalanan yang baru saja dimulai.
Air yang Berpindah Wadah
Almarhumah Ibu saya pernah mengatakan bahwa manusia itu seperti air. "Di kendi, air bisa menjadi dingin. Di gelas, ia tampak jernih. Di panci, ia bisa mendidih. Wadahnya boleh berbeda. Keadaannya bisa berubah. Tetapi jangan kehilangan rasa". Dulu saya menganggap pesan itu sebagai nasihat agar saya mampu beradaptasi. Sekarang saya melihatnya lebih dalam. Mungkin memang begitulah hidup. Kita tidak selalu memilih wadah tempat kita ditempatkan. Kadang kita dipindahkan. Kadang kita harus beradaptasi. Kadang kita harus mendidih karena tekanan. Kadang kita hanya perlu menjadi jernih. Tetapi yang paling penting bukan wadahnya. Melainkan apa yang tetap kita bawa di dalam diri. Pesan ayah mengingatkan saya untuk menjaga nilai. Pesan almarhumah ibu mengingatkan saya untuk mampu beradaptasi. Dan satu tahun perjalanan ini mengajarkan saya bahwa keduanya harus berjalan bersama.
Satu Tahun, Bukan Akhir Perjalanan
Setahun bukan waktu yang panjang. Saya belum bisa mengatakan bahwa saya telah menjadi orang industri. Saya masih belajar membaca regulasi. Masih belajar memahami substansi. Masih belajar tentang kawasan industri, industri hijau, SIINAS, hilirisasi, data industri, perizinan dan berbagai persoalan lainnya. Tetapi mungkin memang bukan itu ukuran perjalanan. Karena menjadi lebih baik tidak selalu berarti menjadi paling tahu.
Saya justru semakin memahami bahwa setiap orang membawa sesuatu yang berbeda. Pengalaman. Pengetahuan. Karakter. Keterampilan. Bahkan keterbatasan. Dan ketika semuanya bisa dielaborasikan dalam sebuah tim, sesuatu yang lebih besar dapat dibangun. Mungkin karena itu saya semakin percaya "Orang hebat bukan semata-mata orang yang memiliki kompetensi paling besar, tetapi orang yang mampu mengelaborasikan apa yang ia miliki, pengetahuan, pengalaman, karakter, sumber daya, bahkan keterbatasannya dengan kompetensi orang lain menjadi sesuatu yang bermanfaat"
Setahun setelah berpindah wadah, saya belum sampai pada tujuan. Saya hanya sedang belajar menjadi air yang tidak kehilangan rasa. Belajar menjadi emas yang tidak berubah nilainya meskipun berpindah tempat. Dan belajar memahami bahwa setiap perpindahan mungkin bukan hukuman karena meninggalkan kenyamanan, melainkan kesempatan untuk menemukan kemampuan yang sebelumnya bahkan tidak kita tahu bahwa kita memilikinya. Pada akhirnya, mungkin hidup memang bukan tentang seberapa baik kita memahami ke mana langkah ini akan membawa kita. Kita sering sibuk menyusun rencana, memilih jalan, mempertahankan tempat yang nyaman, bahkan kecewa ketika Allah SWT mengubah arah yang sudah kita bayangkan. Padahal boleh jadi, perpindahan yang kita anggap kehilangan justru sedang membawa kita menuju ruang yang memang telah disiapkan-Nya untuk kita belajar.
Satu tahun ini mengajarkan saya bahwa tidak semua perubahan harus segera dipahami. Sebagian cukup dijalani dengan ikhtiar, kesabaran, dan keyakinan bahwa Allah SWT tidak pernah keliru menempatkan hamba-Nya. Kita boleh merasa tersesat, tetapi Allah tidak pernah kehilangan arah. Kita boleh merasa tidak siap, tetapi Allah tahu kemampuan yang bahkan belum kita kenali dalam diri kita. Maka jika hari ini saya menoleh ke belakang, saya tidak lagi bertanya,
"Mengapa saya dipindahkan ke sini?"
Saya justru belajar berkata, “Alhamdulillah, Ya Allah, karena Engkau pernah memindahkan saya ke tempat yang ternyata mengajarkan saya mengenal diri sendiri.”
Sebab pada akhirnya, perjalanan hidup bukan tentang menemukan jalan yang kita inginkan, melainkan tentang menemukan makna di setiap jalan yang Allah SWT pilihkan untuk kita.

Komentar
Posting Komentar